Secercah Harapan dari Airlangga untuk Insan Perfilman

Setahun pandemi berdampak besar bagi kehidupan mereka para pekerja film. Industri film nasional yang tumbuh pesat yang diimbangi dengan regenerasi insan perfilman luluh lantak dikoyak pandemi.

Produksi film pun menurun dan ini berdampak pada kehidupan mereka yang menggantungkan hidup dari dunia film. Namun, setelah setahun pandemi hadir di tengah-tengah kita, harapan bangkitnya lagi industri kreatif ini lahir ketika mereka, para pekerja film, bertemu dengan Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian.

Sejumlah insan perfilman nasional, yang terdiri dari produser, sutradara, pekerja film, dan pengusaha bioskop menemui Airlangga yang saat ini merangkap sebagai Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemilihan Ekonomi (KPCPEN)

Dalam pertemuan yang digelar Jumat (19/3) ini dimanfaatkan oleh para insan perfilman dengan membeberkan keluh kesah mereka menghadapi pandemi yang telah berjalan lebih dari satu tahun ini.

Mereka bercerita, sebanyak 90% pemasukan industri perfilman berasal dari bioskop yang merupakan hilir dari industri ini. Sayangnya, pemutaran film melalui digital platform atau streaming yang awalnya diandalkan sebagai pengganti bioskop, belum bisa memenuhi kebutuhan produksi film.

Jumlah pekerja industri film, animasi, dan video Indonesia di tahun 2019 sendiri mencapai sekitar 50 ribu. Sementara jumlah pekerja bioskop sebelum pandemi, rata-rata 10 orang per layar, dengan jumlah layar 2.217.

Tentu, selama pandemi, jumlah film yang dirilis di bioskop turun drastis. Dari yang semula 129 menjadi hanya 7 judul saja. Dari 420 bioskop, hanya 190 saja yang tetap beroperasi. Kondisi ini membuat banyak pekerja film kehilangan pekerjaannya.

Salah seorang sineas yang turut hadir dalam pertemuanya tersebut, Mira Lesmana, mengatakan, tujuan utama pertemuan tersebut adalah untuk mengingatkan pemerintah bahwa industri film juga sama terpuruknya dengan industri yang lain di saat pandemi.

“Kalau kita tidak diberi bantuan pernapasan, kita bisa terpuruk. Jadi sebenarnya kita ingin memberitahu semua bahwa ini sedang parah banget, penurunan bioskop aja sampai 97 persen sejak pandemi,” ungkap Mira.

Mira menjelaskan, pembukaan bioskop pada Oktober 2020 tidak mendatangkan perubahan signifikan bagi pendapatan industri film. Sebab masih banyak stigma negatif untuk datang ke bioskop, seperti protokol kesehatan yang tidak aman. Padahal ongkos produksi sebuah film saat pandemi pun tidak murah.

“Jadi ada stigma fear factor, itu kan saling berhubungan bahwa negara harus memberi kenyamanan bagi kita semua, baik untuk yang bekerja dan menonton,” ujar Mira.

Selama setahun penuh, para pekerja film sudah berusaha untuk bertahan dengan dana mandiri. Akan tetapi para insan perfilman sadar bahwa jika tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah, maka industri film Indonesia akan semakin terpuruk dan apa yang sudah dicapai 4 atau 5 tahun belakangan, dimana nama Indonesia cukup berjaya di pasar internasional akan sia-sia.

“Kami sudah berusaha selama setahun ini sendiri dan enggak mungkin kalau tidak dibantu, berarti kami akan terpuruk beberapa bulan lagi. Begitu bioskop tutup nih, kita semua enggak bisa bergerak, karena pemasukan utama kami untuk menumbuhkan perfilman itu adalah dari bioskop,” kata Mira.

Merasakan beban
Airlangga sendiri mendengarkan keluh kesah para pekerja film ini dengan serius dan merasakan beban yang dipikul para pekerja film ini. Airlangga mengatakan, pihaknya memahami keresahan yang dihadapi pekerja film. Hal ini mengingat sektor industri perfilman sangat terdampak pandemi Covid-19.

“Saya sendiri sudah ke bioskop, tapi hanya saya sendiri yang nonton tidak ada yang lain, padahal itu weekend,” ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, meskipun banyak masyarakat yang sudah mulai datang ke mall dan makan di restoran walaupun tidak penuh. Namun, mereka masih takut untuk masuk ke bioskop. Oleh karena itu, Airlangga mendorong adanya kampanye agar masyarakat merasa aman dan nyaman ke bioskop, misalnya dengan melakukan serangkaian prosedur dan sertifikasi kesehatan.

“Saya berharap bioskop-bioskop bisa lebih gencar lagi menggaungkan bahwa nonton di bioskop akan tetap aman dengan memperhatikan protokol kesehatan. Kalau stigma itu bisa sampai ke publik, mereka akan kembali berani nonton di bioskop. Penuhi persyaratan itu, nanti akan kita dorong,” pungkasnya.

Kampanye, harapan baru
Berdasarkan proposal insan film, salah satu bentuk stimulus yang diusulkan adalah kampanye kembali nonton di bioskop. Selain itu juga ada subsidi tiket bioskop dengan skema 1 tiket = 4 tiket demi meminimalisir kerugian bioskop dan membuat produser berani memasok kembali film. Selain itu, bisa juga diberikan promo buy one get one free.

Tentu kampanye dan subsidi tiket ini diharapkan mampu menggairahkan kembali wajah pekerja film.
Perkiraan anggaran yang dibutuhkan untuk program tersebut sebesar Rp 500 miliar. Airlangga akan menyiapkan skema stimulus sambil terus menjalin komunikasi dengan para pelaku industri film Indonesia.

Di tengah harapan besar para pekerja film, Airlangga berjanji akan mencari formulasi yang tepat untuk mengembalikan lagi keceriaan pekerja film. Stimulus yang disiapkan pemerintah diharapkan mencapai target yang tepat, sehingga yang terbantu betul-betul pekerja film, (labour insentif), bukan hanya bioskop yang didominasi 4 jaringan bioskop besar. “KPCPEN akan melakukan diskusi intensif dengan kelompok kerja dari industri film,” janji Airlangga.

Dengan stimulus, bioskop kembali ramai dikunjungi, produksi film kembali bergairah, seluruh pekerja film bisa kembali bekerja dan berpenghasilan. Pada akhirnya diharapkan ekosistem film kembali berputar, termasuk bidang usaha yang bisa membuka kembali lapangan pekerjaan baru bagi pekerja film. Penjelasan Airlangga membawa angin segar bagi insan perfilman.

Jadi, ayo kembali nonton di bioskop dengan tetap menerapkan protokol kesehatan!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *