Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pembangunan KI di luar Jawa bertujuan mendorong pemerataan infrastruktur dan ekonomi di seluruh Indonesia. Pembangunan itu, lanjut dia, diyakini dapat meningkatkan nilai investasi di Indonesia. Bahkan, dengan berdirinya pabrik, akan menyerap banyak tenaga kerja lokal.
“Ini salah satu bukti dari multiplier effect aktivitas industrialisasi. Kami memproyeksikan terjadi peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas di luar Jawa sebesar 60% dibanding di Jawa,” ujar Airlangga.
Sampai November 2018, dia menuturkan, telah beroperasi 10 KI PSN, yakni Morowali, Bantaeng, Konawe, Palu, Sei Mangkei, Dumai, Ketapang, Gresik, Kendal, dan Banten. Dia menjelaskan, KI di Jawa akan difokuskan pada pengembangan jenis industri tertentu, sedangkan pengembangan KI baru di luar Jawa diarahkan pada industri berbasis sumber daya alam dan pengolahan mineral.
Dia mencontohkan, Sei Mangkei dan Kuala Tanjung akan menjadi klaster pengembangan industri berbasis agro dan aluminium, karena di sana ada Inalum dan industri pengolah CPO. “Ini juga merupakan langkah Kemenperin memacu hilirisasi industri. Inalum sudah memproduksi aluminium ingot yang bisa digunakan sektor otomotif untuk blok mesin,” ujar Airlangga.
Sementara itu, kawasan industri di Morowali sudah berhasil melakukan hilirisasi terhadap nickel ore menjadi stainless steel. Untuk nickel ore dijual sekitar US$ 40-60 per ton, sedangkan menjadi stainless steel harganya di atas US$ 2.000 per ton.
“Kita sudah mampu ekspor dari Morowali senilai US$ 4 miliar, baik itu hot rolled coil maupun cold rolled coil ke Amerka Serikat dan Tiongkok,” kata Airlangga.