Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Tengah tegas menolak pencawapresan kembali wakil presiden Jusuf Kalla di Pilpres 2019. Golkar meminta jaminan (Garansi) jika Jokowi urung mengusung Airlangga Hartarto sebagai cawapres.
“Internal Golkar menilai lebih baik MK menolak gugatan Pak JK terkait UU Pemilu, jika dikabulkan bisa berdampak pada lembaga negara lainnya,” kata Petit Widi Atmoko, Wakil Ketua Bidang Organisasi Kemasyarakatan DPD Golkar Jateng, dalam diskusi Komunitas @TentangGolkar, di Semarang, Sabtu (28/7).
Dampak jika dikabulkan, kata Petit, bisa jadi para mantan presiden terdahulu akan menggugat hal yang sama pula. “Bisa jadi nanti mantan presiden SBY ikut menggugat, ikut maju pencapresan. Saya yakin MK punya independensi memutuskan,” ujarnya.
“Kalau sudah dua periode etikanya sudah tak mencalonkan lagi,” lanjutnya.
Pihaknya meyakini jika MK sebelum tanggal 9 Agustus 2018, atau sebelum masa pendaftaran capres dan cawapres, sudah ada keputusannya.
“Hal yang sama juga Jokowi pasti sudah mengantongi nama cawapres sesuai kesepakatan para ketua umum partai koalisi,” ujar Petit yang juga Caleg Golkar DPRD Dapil I Jateng.
Golkar menandaskan, nama Ketua Umum Airlangga Hartato menjadi opsi cawapres dari Jokowi. Meski hak sepenuhnya ada ditangan Jokowi untuk memutuskan.
“Kita akan mengikuti lobi-lobi ketua umum. Paling nanti ada rapimnas, misal Jokowi tak memilih Airlangga, itu bagian bagaimana presiden menggaransi pada partai kita. Kecuali mengambil Pak Airlangga sebagai cawapres ya gak ada rapimnas,” tutur Petit.
Sementara, pengamat politik Universitas Diponegoro Semarang Achmad Yulianto menyatakan, masyarakat Jawa Tengah memang menginkan figur pemimpin seperti Airlangga Hartarto pada Pilpres 2019.
“Masyarakat Jawa Tengah menginginkan sosok pemimpin yang andap asor, kebapakan, tidak banyak tampil namun giat bekerja, dan hal tersebut ada pada figur Airlangga. Ini bukan semata-mata pendapat saya, namun juga berdasar pada riset yang dilakukan oleh teman akademisi dan lembaga riset di Jawa Tengah baru-baru ini.” tandas Yulianto.