Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang kembali positif tahun 2021 ini melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, untuk program vaksinasi menjadi syarat menjaga kesehatan masyarakat menghadapi Covid-19 hingga dapat menumbuhkan perekonomian.
“Sebagai komponen utama dari ekonomi, tentunya masyarakat yang sehat akan menghidupkan perekonomian dalam berbagai sektor. Mulai dari manufaktur, pendidikan, UMKM, pariwisata, dan lainnya,” ujarnya mengutip dalam cara “Webinar Nasional Vaksin dan Pemulihan Ekonomi Nasional”, Minggu (30/5/2021).
Airlangga menjelaskan, vaksinasi Covid-19 sebagai game changer menjadi krusial untuk menentukan kesuksesan Indonesia dalam mengakhir pandemi.
Untuk mencapai imunitas masyarakat, lanjut dia, dibutuhkan 70 persen penduduk atau sekira 181 juta masyarakat Indonesia yang perlu divaksinasi.
Selain itu, pentingnya dampak vaksinasi di Indonesia terhadap penurunan angka kematian dan diimbangi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.
Selanjutnya, dibarengi kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) memberikan efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Dengan penanganan pandemi yang semakin baik, diprediksi perekonomian akan kembali di jalur positif yaitu di angka 4,5 persen hingga 5,3 perse. Tentunya ini akan kembali didorong dengan struktural yang menjadi pendongkrak ekonomi di jangka menengah,” pungkas Airlangga.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan merespons beredarnya narasi vaksin Covid-19 mengandung mikrocip magnetis.
Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmidzi, mengatakan narasi tersebut tidak benar dan masyarakat diminta tidak terpengaruh.
Ia menjelaskan, vaksin mengandung bahan aktif dan non aktif, di mana bahan aktif berisi antigen, dan bahan non aktif berisi zat untuk menstabilkan, menjaga kualitas vaksin agar saat disuntikkan masih baik.
Adapun jumlah cairan yang disuntikan hanya 0,5 cc, dan akan segera menyebar di seluruh jaringan sekitar, sehingga tidak ada carian yang tersisa.
“Sebuah logam dapat menempel di permukaan kulit yang lembab biasanya disebabkan keringat.”
“Pecahan uang logam seribu rupiah terbuat dari bahan nikel, dan nikel bukan bahan yang bisa menempel karena daya magnet,” jelas Nadia saat dikonfirmasi, Jumat (28/5/2021).
Sebelumnya, video yang beredar di media sosial menunjukkan seseorang meletakkan koin Rp 1.000 di lengan bekas suntikan vaksin Covid-19.
Hasilnya, koin menempel seolah membuktikan narasi vaksin Covid-19 yang mengandung mikrocip magnetis adalah benar.
Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan, persoalan tersebut perlu dikaji dengan baik.
Ia menjelaskan, lubang jarum suntik sangat kecil, tidak ada partikel magnetik yang bisa melewati.
“Vaksin berisi protein, garam, lipid, pelarut, dan tidak mengandung logam.”
“Jadi perlu dijelaskan bahwa berita itu hoaks,” ucapnya.
Sejak program vaksinasi Covid-19 dimulai pada 13 Januari 2021, pemerintah sudah menyuntikkan dosis pertama kepada 15.703.583 (36,95%) penduduk hingga Kamis (27/5/2021).
Sedangkan dosis kedua sudah diberikan kepada 10.359.996 (24,49%) orang.
Dikutip dari laman kemkes.go.id, rencana sasaran vaksinasi Covid-19 di Indonesia adalah 181.554.465 penduduk yang berumur di atas 18 tahun.
Hal ini untuk mencapai tujuan timbulnya kekebalan kelompok (herd immunity).
Karena ketersediaan jumlah vaksin Covid-19 bertahap, maka dilakukan penahapan sasaran vaksinasi.
Untuk tahap pertama, vaksinasi Covid-19 dilakukan terhadap Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK).
Yang meliputi tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, dan tenaga penunjang yang bekerja pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Berdasarkan pendataan yang dilakukan sampai saat ini, jumlah SDM Kesehatan yang menjadi sasaran vaksinasi Covid-19 adalah 1.468.764 orang, sedangkan populasi vaksinasi sebanyak 12.552.001 orang.