Kementerian Perindustrian mengajak Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang atau Japan External Trade Organization (Jetro) bekerja sama mengembangkan industri kecil dan menengah (IKM). Salah satunya dengan membangun pelatihan vokasi di Indonesia.
Utamanya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meminta Ketua Jetro, Hiroyuki Ishige untuk terus memfasilitasi link and match antara IKM di Jepang dan Indonesia. Hal ini pun dianggap sebagai upaya strategis pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif.
“Selain itu, kami juga mendorong program capacity building bagi guru-guru vokasi industri. Sehingga kemitraan bisnis dan perekonomian kedua negara lebih kuat,” kata Airlangga dalam rangkaian kegiatan World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2019 di Davos, Swiss, di Jakarta, Senin (28/1), seperti dilansir Antara,
Dijelaskannya, kerja sama bidang vokasi ini meliputi pengembangan teknologi dan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya untuk perusahaan skala besar, tapi juga IKM. Salah satunya peningkatan kemampuan bidang desain tekstil dengan menghadirkan ahli tekstil atau desain IT dari Jepang ke Indonesia.
Kerja sama ini nantinya dapat diaplikasikan di Politeknik Sekolah Tinggi Teknik Tekstil (STTT) Bandung agar para ahli tekstil dari Jepang itu memberikan transfer pengetahuan kepada para pengajar atau instruktur di sekolah tersebut. Jadi, dapat tercetak SDM berkualitas sesuai kebutuhan era industri 4.0.
Tak hanya di bidang teknologi dan tekstil, pihaknya pun berupaya melakukan kerja sama di industri elektronika serta makanan dan minuman, serta pengemasan.
“Semoga semakin banyak kolaborasi yang terjalin antara pengusaha kedua negara sehingga bisa saling melengkapi dan industri kita lebih berdaya saing global,” ujar Airlangga.
Dalam pertemuan di Davos, Swiss, Airlangga dan Hiroyuki juga sepakat memperdalam struktur sektor manufaktur di Indonesia. Melalui peningkatan investasi dan memfasilitasi perluasan akses pasar ekspor. Dalam mendorong peningkatan investasi ini, Kemenperin sudah menawarkan sejumlah kawasan industri untuk menampung para investor tersebut.
Kemenperin mencatat, pada periode Januari-September 2018, Jepang merupakan investor kedua terbesar di Indonesia dengan nilai mencapai US$3,8 miliar untuk 2.731 proyek. Lebih dari 1.600 perusahaan Jepang yang beroperasi selama ini telah membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 5 juta penduduk Indonesia.
“Kalau kita lihat, jumlah industri kecil di Indonesia juga terus tumbuh dan berkembang,” ucap Airlangga.
Berdasarkan data Kemenperin, jumlah sektor industri kecil dari tahun 2014 mengalami penambahan dari 3,52 juta unit usaha menjadi 4,49 juta unit usaha pada 2017. Tumbuh 970 ribu industri dalam kurun waktu empat tahun.
Airlangga pun berharap, Jetro lebih gencar mempromosikan IKM Indonesia di Jepang. Sekaligus memfasilitasi kemitraan antara pengusaha nasional dengan pelaku usaha dari Negeri Sakura tersebut. Sejauh ini pun, ia mengakui Jetro juga telah memfasilitasi program business matching untuk mempertemukan pengusaha kedua negara.
“Apalagi, pemerintah saat ini telah mengeluarkan pajak final 0,5% untuk IKM,” imbuhnya.