Pejabat Indonesia menghadiri penyelenggaraan World Economic Forum (WEF), atau Forum Ekonomi Dunia 2019 di Davos, Switzerland (Swiss) dari tanggal 22-25 Januari.
Para menteri yang hadir, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.
Sedangkan kalangan lain yang hadir, ekonomi Internasional pada Universitas Indonesia Mari Elka Pangestu, Ketua Kadin Roesan Roeslani, CEO PT Bakrie Global Ventura Anindya Bakrie, Pendiri & CEO Tokopedia William Tanuwidjaja, Direktur Grup Lippo John Riady, dan sejumlah tokoh bisnis papan atas lainnya dari Indonesia.
Melalui Indonesia Pavilion di WEF tersebut, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong yang juga hadir dalam acara itu, Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk membuka pintu investasi.
“Investor diharapkan dapat langsung berdiskusi, mempelajari dan mengenal potensi Indonesia secara langsung dari menteri dan pejabat Indonesia yang hadir,” kata Thomas dalam siaran persnya yang diterima Rabu (23/1).
“Berbeda dengan tahun sebelumnya, Indonesia Paviliom Kegiatan menampilkan pertunjukan teknologi seperti Virtual Reality, Augmented Reality dan Neuro Brain Wave Technology,” ujar Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong.
Menurut Thomas, WEF ini menjadi sarana diplomasi ekonomi melalui penyebaran informasi perkembangan terbaru Indonesia. Kegiatan utama di dalam Indonesia Pavilion dilakukan secara terintegrasi melalui konsep Indonesia Incorporated baik pemerintah maupun swasta nasional.
Keberadaan Indonesia Pavilion ini juga ditujukan untuk meyakinkan, serta memberikan sentimen positif para investor dan para penggiat ekonomi dunia terhadap kondisi ekonomi Indonesia di tengah isu perang dagang AS-China, politik dalam negeri (Pemilu), serta fluktuasi harga minyak dunia yang mempengaruhi nilai tukar Rupiah.
Menteri Perindustrian Indonesia Airlangga Hartarto memaparkan selama tahun 2015-2018, Indonesia menikmati pertumbuhan pesat di lima sektor manufaktur utamanya, kuliner, elektronik, otomotif, bahan kimia dan tekstil dan pakaian.
Diperkirakan, pertumbuhan ini akan berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Secara keseluruhan, Indonesia menorehkan prestasi pertumbuhan rata-rata 4.87 persen sementara rata-rata pertumbuhan manufaktur mencapai nilai 2.555,8 triliun rupiah.