Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional hingga akhir tahun 2020 akan berada di rentang minus 1,7 persen hingga 0,6 persen.
“Dari segi pertumbuhan perekonomian diprediksi di akhir tahun ini masuk antara minus 1,7 sampai 0,6 persen pertumbuhannya,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto .
Kendati di akhir tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih rendah bahkan diprediksi akan terkontraksi, Airlangga menjelaskan, hal serupa juga dialami semua negara.
Hal ini diakibatkan oleh pandemi virus corona (Covid–19) yang masuh belum berakhir.
“Saat ini pandemi Covid–19 ada di 215 negara, dan hampir seluruh negara mengalami kontraksi perekonomian. Kita bandingkan dengan negara lain, kita di Kuartal ke–2 itu minus 5,3. Tetapi negara lain seperti Malaysia itu minus 17 misalnya, Jerman minus 11, Singapura minus 13,2, Filipina minus 16 dan India minus 23 persen,” jelas Airlangga Hartarto.
“Jadi kalau dibandingkan negara lain, kontraksi negara kita lebih rendah daripada negara–negara lain,” ucap mantan Menteri Perindustrian di periode pertama Pemerintahan Jokowi.
Lebih lanjut ia menjelaskan, ekonomi Indonesia akan tumbuh positif lagi pada tahun depan.
Hal ini diperkuat dengan anake prediksi dari lembaga–lembaga dunia, termasuk Bank Dunia (World Bank).
“Pertumbuhan ekonomi kita di tahun depan dari berbagai lembaga seperti World Bank, ADB, dan OECD itu memprediksikan ekonomi Indonesia positif,” papar Airlangga Hartato.
Pada kuartal II 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi RI minus hingga 5,32 persen.
Secara kuartalan, ekonomi terkontraksi 4,19 persen dan secara kumulatif terkontraksi 1,26 persen.
Kontraksi ini lebih dalam dari konsensus pasar, maupun ekspektasi pemerintah dan Bank Indonesia di kisaran 4,3 persen hingga 4,8 persen.